Tuesday, January 3, 2017

MAKALAH MATERI DAN ALAT DALAM PRAKTEK PENDIDIKAN



MAKALAH MATERI DAN ALAT DALAM PRAKTEK PENDIDIKAN
MATA KULIAH ILMU PENDIDIKAN




Disusun Oleh :
1.        Isma’ilia Khoirun Nasta’in                  (1102415009)
2.        Denta Septian Pamungkas                   (1102415019)
3.        Moh Agus Riawan                              (1102415022)




JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016
BAB 1
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang


Pendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Pendidikan dari segi kehidupan dirasakan sangat penting bagi perkembangan hidup manusia. Pendidikan sudah merupakan kebutuhan yang mendasar bagi setiap individu. Oleh karena itu pembaharuan dalam pendidikan terus dilakukan  untuk tercapainya kualitas pendidikan yang lebih baik dari sebelumnya. Salah satu dalam   pelaksanaannya,  suatu pendidikan membutuhkan meteri dan alat pendidikan. Berbagai upaya peningkatan standar mutu pendidikan sudah menjadi prioritas utama yaitu dengan meningkatkan kualitas materi dan alat pendidikan dalam proses pembelajaran. Penggunaan  materi dan alat pendidikan dalam proses pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik.  Penggunaan materi dan alat pendidikan sangat menguntungkan dalam penyampaian pesan kepada penerima. Dengan kata lain, proses perkembangan pendidikan manusia untuk mancapai hasil yang maksimal harus menggunaan materi dan alat pendidikan.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan materi pendidikan
2.      Bagaimana implementasi materi pendidikan di dunia pendidikan?
3.      Apa saja cakupan materi pendidikan dan apa prinsip pengembangan kurikulum?
4.      Bagaimana kurikulum dapat dikatakan baik?
5.      Apa saja macam – macam alat pendidikan?

  1. Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian materi pendidikan
2.      Memahami implementasi kurikulum di dunia pendidikan.
3.      Memahami cakupan materi pendidikan dan prinsip pendidikan.
4.      Mengetahui kurikulum yang baik.
5.      Memahami macam-macam alat pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Materi Pendidikan
1.      Pengertian Materi Pendidikan
Pendidikan dilaksanakan di dalam suatu kesatuan hidup bersama atau masyarakat dengan sifat sosial manusia menjadi dasar bagi kesatuan hidup bersama itu. Makna kehidupan manusia ditetukan oleh nilai-nilai hidup (nilai-nilai kemanusiaan) yang mendasari persatuan hidup bersama, selaras dengan asumsi tersebut, maka tujuan akhir pendidikan ialah menjadikan peserta didik berkepribadian dewasa, yang memiliki, menghayati dan melaksanakan nilai-nilai kemanusiaan dalam hidupnya. Oleh karena itu, pendidikan merupakan pengejaran dan pelaksanaan nilai-nilai. Dengan landasan tujuan akhir dari pendidikan maka dapat dikatakan bahwa  isi atau materi pendidikan ialah segala hal materi atau tindakan yang membawa peserta didik mengalami, mengahayati nilai-nilai kemanusiaan, sehinga peserta didik mampu membangun nilai-nilai kemanusiaan dalam kepribadiannya.
2.      Implementasi materi pendidikan
Dalam persekolahan materi pendidikan dikenal dengan istilah kurikulum. Kurikulum merupakan program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancang secara sistematik atas dasar norma yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
3.      Cakupan Materi Pendidikan
a.                                   Pendidikan jasmani dan keterampilan
Pendidikan jasmani dan keterampilan ini mencakup pertumbuhan fisik yang sehat, kelincahan, keterampilan,menggunakan anggota badan berkaitan dengan makanan, minuman, udara segar, istirahat, pakaian, perumahan, seks. Tujuannya agar anak didik menerima, menghargai, merawat dan melatih tubuhnya.
b.                                  Pendidikan seni
Pendidikan seni merupakan kegiatan pendidikan yang mengutamakan tumbuhnya rasa seni, senang akan keharmonisan, keteraturan dan kebutuhan dalam diri anak. Tujuannya agar anak didik mengembangkan rasa keindahan.
c.                                   Pendidikan intelektual
Pendidikan intelektual kegiatan pendidikan yang mengutamakan realisasi kemampuan intelektual anak didik dalam memecahkan masalah konkrit yang dihadapi sehari-hari. Tujuannya agar anak didik mengembangkan kemampaun berpikir dan cara mengatasi persoalan secara tepat.
d.                                  Pendidikan nilai dan sikap
Pendidikan nilai dan sikap merupakan kegiatan pendidikan yang mengutamakan penanaman nilai-nilai positif serta pembentukan sikap yang baik dalam diri anak. Tujuannya agar anak didik mempunyai perilaku dan sikap yang baik.
e.                                   Pendidikan Humaniora
Pendidikan humaniora mencakup kegiatan pendidikan yang mengutamakan hubungan timbal balik antar sesama manusia yang memang pada dasaranya manusia adalah mahluk sosial yang sesalu membutuhkan orang lain. Tujuannya agar anak didik dapat bersosialisasi dan bergaul dalam masyarakat.
f.                                   Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan seni merupakan kegiatan pendidikan yang mengutamakan tumbuhnya rasa nasionalisme serta adanya rasa cinta tanah air. Tujuannya agar anak didik memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi yang pada akhirnya dapat menjadi generasi penerus bangsa yang unggul.
  1. Kurikulum yang baik
Kurkulum yang baik adalah kurikulum yang didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Menegakkan lima pilar belajar yakni : (a) belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan; (b) mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif; (c) memahami dan menghayati; (d) hidup bersama dan berguna bagi orang lain; (e) membangun dan menemukan jati diri.  Kurikulum dapat dikatakan baik jika kurikulum dapat memungkinkan peserta didik mendapatkan pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan dan atau percepatan sesuai potensi. Kurikulum tersebut dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang salin menerima dan menghargai, akrab, terbuka dan hangat serta dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multi strategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai. Kurikulum yang baik juga dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan. Kurikulum tersebut harus mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri.
  1. Alat Pendidikan
Dalam dunia pendidikan terdapat bermacam alat pendidikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan, pembagian alat pendidikan ke dalam tiga bagian :
                              i.     Alat-alat yang memberikan perlengkapan berupa kecakapan berbuat dan pengertian hafalan. Alat-alat ini dapat pula disebut alat-alat pembiasaan.
                            ii.     Alat-alat untuk memberi pengertian, membentuk sikap, minat dan cara berfikir.
                          iii.     Alat-alat yang membawa ke arah keheningan batin, kepercayaan dan pengarahan diri sepenuhnya kepada-Nya.
Disamping pembagian di atas, ada juga yang membagi alat pendidikan ke dalam dua bagian yaitu : Alat-alat langsung, yaitu alat-alat bersifat menganjurkan sejalan dengan maksud usaha (alat-alat positif) dan alat-alat tidak langsung, yaitu alat-alat yang bersifat pencegahan dan pembasmian hal-hal yang bertentangan dengan maksud usaha.
Suwarno (dalam Smabada, 2013) membedakan alat-alat pendidikan dari beberapa segi berikut :
1.      Alat pendidikan positif dan negatif : positif, jika ditunjukkan agar anak mengerjakan sesuatu yang baik, misalnya : contoh yang baik pembiasaan, perintah, pujian, dan ganjaran. Negatif, jika tujuannya menjaga supaya anak didik jangan mengerjakan sesuatu yang jelek, misalnya : larangan, celaan, peringatan, ancaman, hukuman.
2.      Alat pendidikan preventif dan korektif ; preventif jika maksudnya mencegah anak sebelum anak berbuat sesuatu yang tidak baik. Misalnya, pembiasaan, perintah, pujian, ganjaran. Korektif jika maksudnya memperbaiki karena anak telah melanggar ketertiban atau berbuat sesuatu yang buruk. Misalnya. Celaan, ancaman, hukuman.
3.      Alat pendidikan yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Menyenangkan yaitu menimbulkan rasa senang pada anak-anak. Misalnya pengajaran dan pujian. Tidak menyenangkan yaitu yang menimbulkan perasaan tidak senang pada anak-anak. Misalnya, hukuman dan celaan.
Sedangkan AmirDien Indrakusuma (dalam Sambada, 2013) membagi alat pendidikan kedalam dua kelompok:
1.      Alat pendidikan preventif ialah alat pendidikan yang bersifat pencegahaan. Tujuannya agar hal-hal yang dapat menghambat atau mengganggu kelancaran proses pendidikan bisa dihindari. Misalnya tata tertib, anjuran dan perintah, larangan dan paksaan.
2.      Alat pendidikan representatif (kuratif dan kerektif), ialah alat pendidikan yang bersifat penyadaran agar anak kembali kepada hal-hal yang benar, baik dan tertib. Misalnya, pemberitahuan, teguran, hukuman dan ganjaran.
Madyo Ekosusilo (dalam Sambada, 2013)mengelompokkan alat pendidikan menjadi dua kelompok yaitu :
1.      Alat pendidikan yang bersifat material, yaitu alat-alat pendidikan yang berupa benda-benda nyata untuk memperlancar pencapaian tujuan pendidikan. Misalnya, papan tulis, OHP dan lain-lain.
2.      Alat pendidikan yang bersifat non material, yaitu alat-alat pendidikan yang berupa keadaan atau dilakukan dengan sengaja sebagai sarana dalam kegiatan pendidikan.
Dalam memilih alat pendidikan manakah yang baik dan sesuai, haruslah memperhatikan empat syarat yang berikut :
a.       Tujuan apakah yang hendak dicapai dengan alat itu,
b.      Siapa (pendidik) yang menggunakan alat itu,
c.       Anak (si terdidik) yang mana yang dikenai alat itu,
d.      Bagaimana menggunakan alat itu,
Alat-alat pendidikan yang sangat penting ialah :
1.      Pembiasaan
Pembiasaan adalah salah satu alat pendidikan yang penting sekali, terutama bagi anak-anak yang masih kecil. Anak-anak kecil belum menginsyafi apa yang dikatakan baik dan apa yang dikatakan buruk dalam arti asusila. Oleh karena itu, pembiasaan merupakan alat satu-satunya. Sejak dilahirkan anak-anak harus dilatih dengan kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti dimandikan dan ditidurkan pada waktu tertentu, diberi makan dengan teratur dan sebagainya.
Anak-anak dapat menurut dan taat kepada peraturan-peraturan dengan jalan membiasakannya dengan perbuatan-perbuatan yang baik, di dalam rumah tangga atau keluarga, di sekolah dan juga di tempat lain.
Supaya pembiasaan itu dapat lekas tercapai dan baik hasilnya, harus memenuhi beberapa syarat tertentu, antara lain :
·         Mulailah pembiasaan itu sebelum terlambat, jadi sebelum anak itu mempunyai kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan.
·         Pembiasaan itu hendaklah terus menerus (berulang-ulang) dijalankan secara teratur sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang otomatis. Untuk itu dibutuhkan pengawasan.
·         Pendidikan hendaklah konsekuen, bersikap tegas dan tetap teguh terhadap pendiriannya yang telah diambilnya.
·         Pembiasaan yang mula-mulanya mekanistis itu harus makin menjadi pembiasaan yang disertai kata hati anak itu sendiri.
2.      Pengawasan
Di atas telah dikatakan bahwa pembiasaan yang baik membutuhkan pengawasan. Pengawasan itu penting sekali dalam mendidik anak. Tanpa pengawasan berarti membiarkan anak berbuat sekehendaknya anak tidak akan dapat membedakan yang baik dan yang buruk, tidak mengetahui mana yang seharusnya dihindari atau tidak senonoh dan mana yang boleh dan harus dilaksanakan, mana yang membahayakan dan mana yang tidak.
Anak yang dibiarkan tumbuh sendiri menurut alamnya, dan menjadi manusia yang hidup menurut nafsunya saja. Kemungkinan besar anak itu menjadi tidak patuh dan tidak dapat mengetahui kemana arah hidup yang sebenarnya.
Memang, ada pula ahli-ahli didik yang menuntut adanya kebebasan yang penuh dalam pendidikan. Roussean, umpamanya, adalah seorang pendidik yang beranggapan bahwa semua anak yang sejak dilahirkan adalah baik, menganjurkan pendidikan menurut alam. Menurut pendapatnya, anak hendaknya dibiarkan tumbuh menurut alamnya yang baik itu sehingga mengenai hukuman pun Roussean menganjurkan hukuman alami.
Tetapi pendapat para ahli didik sekarang umumnya, sependapat bahwa pengawasan adalah alat pendidikan yang penting dan harus dilaksanakan, biarkan secara berangsur-angsur anak itu harus diberi kebebasan. Pendapat yang akhir ini mengatakan bukankah kebebasan itu yang dijadikan pangkal atau permulaan pendidikan, melainkan kebebasan itu yang hendak diperoleh pada akhirnya.
3.      Perintah
Perintah bukan hanya apa yang keluar dari mulut seseorang yang harus dikerjakan oleh orang lain. Melinkan dalam hal ini termasuk pula peraturan-peraturan umum yang harus ditaati oleh anak-anak. Tiap-tiap perintah dan peraturan dalam pendidikan mengandung norma-norma kesusilaan, jadi bersifat memberi arah atau mengandung tujuan ke arah peraturan susila.
Suatu perintah atau peraturan dapat mudah ditaati oleh anak-anak jika si pendidik sendiri juga menaati dan hidup menurut peraturan-peraturan itu. Tidak mungkin suatu aturan sekolah ditaati oleh murid-muridnya jika guru sendiri tidak menaati peraturan yang telah dibuatnya itu.
Syarat-syarat memberi perintah antara lain :
·         Perintah hendaknya terang dan singkat, jangan terlalu banyak komentar, sehingga mudah dimengerti oleh anak.
·         Perintah hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan umur anak sehingga jangan sampai memberi perintah yang tidak mungkin dikerjakan oleh anak itu. Tiap-tiap perintah hendaknya disesuaikan dengan kesanggupan anak.
·         Kadang-kadang perlu pula kita mengubah perintah itu menjadi suatu peritah yang lebih bersifat permintaan sehingga tidak terlalu keras kedengarannya. Hal ini berlaku lebih-lebih terhadap anak yang sudah besar.
·         Janganlah terlalu banyak dan berlebihlebihan memberi perintah,sebab dapat mengakibatkan anak itu tidak patuh, tetapi menentang, pendidik hendaklah hemat akan perintah.
·         Pendidik hendaklah konsekuen terhadap apa yang telah diperintahkannya, suatu perintah yang harus ditaati oleh seorang anak, berlaku pula bagi anak lain.
·         Suatu perintah yang bersifat mengajak, sipendidik turut melakukannya, umumnya lebih ditaati oleh anak-anak dan dikerjakannya dengan gembira.
4.      Larangan
Di samping memberi perintah, sering pula kita harus melarang perbuatan anak-anak. Larangan itu biasanya kita keluarkan jika anak melakukan sesuatu yang tidak baik, yang merugikan, atau dapat membahayakan dirinya.
Seorang ayah dan ibu yang sering melarang perbuatan anaknya, dapat mengakibatkan bermacam-macam sifat atau sikap yang kurang baik pada anak itu, seperti :
- Keras kepala atau melawan
- Pemalu dan penakut
- Perasaan kurang harga diri
- Kurang mempunyai perasaan tanggung jawab
- Pemurung atau pesimis
- Acuh tak acuh terhadap sesuatu (apatis) dan sebagainya.
Syarat yang harus diperintahkan dalam melakukan larangan diantaranya :
a.       Sama halnya dengan perintah, larangan itu harus diberikan dengan singkat, supaya dimengerti maksud larangan itu.
b.      Jangan terlalu sering melarang, akibatnya tidak baik bagi anak-anak yang masih kecil, larangan dapat dicegah dengan membolehkan perhatian anak kepada sesuatu yang lain, yang menarik minatnya.


5.      Ganjaran
Ganjaran adalah salah satu alat pendidikan yang untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan. Pendidik bermaksud suapaya dengan ganjaran itu anak menjadi lebih giat lagi usahanya untuk mempertinggi prestasi yang telah dicapainya untuk bekerja atau berbuat lebih lagi.
Beberapa macam perbuatan atau sikap pendidik yang dapat merupakan ganjaran bagi anak didiknya.
1. Guru mengangguk-angguk tanda senang dan membenarkan suatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak.
2. Guru memberi kata-kata yang menggembirakan (pujian) seperti, ”Rupanya sudah baik pula tulisanmu, mun, kalau kamu terus berlatih, tentu akan lebih baik lagi”.
3. pekerjaan dapat juga menjadi suatu ganjaran. Contoh ”Engkau akan segera saya beri soal yang lebih sukar sedikit, Ali, karena yang nomor 3 ini rupa-rupanya agak terlalu baik engkau kerjakan.
4. ganjaran dapat juga berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak. Misalnya pensil, buku tulis, gula-gula atau makanan yang lain.
6.      Hukuman
Hukuman adalah alat pendidikan yang tidak lepas dari sistem kemasyarakatan serta kenegaraan yang berlaku pada waktu itu, dengan kata lain hukuman adalah penderitaan yang diberikan atai di timbulkan dengan sengaja oleh seseorang.

BAB III
PENUTUP
  1. Simpulan
Pendidikan sebagai suatu upaya untuk memurnikan hakikat penciptaan manusia bukanlah suatu proses yang singkat dan sederhana. pendidikan merupakan proses yang mutlak harus dialami setiap manusia sepanjang hidupnya baik itu melalui pendidikan formal, nonformal maupun informal. Tujuan dari ketiga ranah pendidikan tersebut bermuara pada satu hal yang sama yaitu menjadikan manusia seutuhnya. Tujuan ini akan didapat manakala berbagai hal pendukungnya berfungsi sebagaimana mestinya. Materi pendidikan dan alat pendidikan dan keterkaitan antar keduanya merupakan hal yang wajib dipenuhi ketika kita ingin mencapai tujuan proses pendidikan tersebut. Berlandaskan pada asumsi tersebut maka dapat dikatakan bahwa efektifnya proses pendidikan akan sangat bergantung pada keahlian kita dalam mengolah, memanfaatkan, serta mengkreasikan materi dan alat pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Hadi, S. 2009. Jenis dan Alat Pendidikan. Surabaya: PT. Remaja Rosda Karya
Hasbullah. 2001. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Kurniasih, Imas. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 Konsep & Penerapan. Surabaya:  Kata Pena
Munib, Achmad,dkk. 2012. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UNNES Press
Sambada, H.B. 2013. Isi Metode dan Alat Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
Sumitro, dkk. 2006. Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

No comments:

Post a Comment

MAKALAH KEGIATAN INTRUKSIONAL BERBASIS KOMPETENSI

  MAKALAH KEGIATAN INTRUKSIONAL BERBASIS KOMPETENSI Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Desain Instruksional Ol...