Summerhill School Pendidikan Alternatif
TINGKAT INTERNASIONAL yANG MENERAPKAN
konsep KURIKULUM DemoKratiS
SERTA KONSEP
BELAJAR HUMANISTIK
Nur Vita
Jurusan Kurikulum dan Teknologi
Pendidikan
Program Studi Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Semarang
Abstrak
Summerhill School merupakan sekolah yang terkenal akan kebebasannya.
Sekolah ini berada di Lyme Regis, Inggris setelah itu pada tahun 1921 pindah ke
Lesiton, Inggris. Alexander Sutherland Neill adalah tokoh
psikologi yang mendirikan Summerhill. Neill menerapkan konsep kurikulum dan
konsep belajar yang berbeda dari sekolah-sekolah pada umumnya. Kurikulum yang
diterapkan di Summerhill School diberi nama Democratic
School. Sedangkan
konsep belajar yang diterapkan adalah konsep belajar humanistik. Dimana antara
konsep belajar dan konsep kurikulum sama-sama menanamkan kebebasan dan bahagia
tetapi tetapi harus mempunyai sikap minimal mandiri dan bertanggung jawab.
Jadi, sekolah yang bebas tetapi juga mempunyai aturan yang dibuat berdasarkan
kesepakatan bersama yaitu dari anak didik, untuk anak didik dan oleh anak
didik.
Kata Kunci : bebas, kurikulum, humanistik,
anak didik.
AbstrACT
Summerhill
School is a school known for its freedom. The school is located in Lyme Regis,
England then in 1921 moved to Lesiton, England. Alexander Sutherland Neill is
psychology who founded Summerhill. Neill apply the concept of curriculum and
learning concepts that are different from schools in general. Curriculum
applied in Summerhill School named Democratic School. While the concept of
learning that is applied is the concept of humanistic study. Where the concept
of learning and curriculum concept equally inculcate freedom and happy but but
must have a minimum of attitude independent and responsible. So, schools are
free, but also have laws that are made by mutual agreement which of the
students, for students and by students.
Keywords: free, curriculum,
humanistic, students.
Pendahuluan
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat
penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum digunakan sebagai acuan
penyelenggaraan pendidikan dan sekaligus indikator mutu pendidikan (Muryani et al., 2011). Summerhill School
merupakan salah satu dari sekian sekolah yang di dalam sistem pengelolaan
terdapat kurikulum. Namun kurikulum yang diberlakukan di Summerhill School berbeda dengan sekolah pada umumnya, sekolah
ini adalah sekolah modern unik. Keunikan sekolah ini yaitu adanya pemberian
kebebasan secara penuh kepada anak didiknya. Alexander Sutherland Neill adalah
salah satu tokoh bidang pendidikan dan psikologi, pendiri Summerhill School
serta salah satu pencetus adanya teori belajar humanistik. Dalam buku Psikologi
Pendidikan Tahun 2012 menyebutkam bahwa teori humanistik yang dicetuskan oleh
A.S. Neill “dalam penerapan pendidikan fokus utamanya adalah hasil pendidikan
yang bersifat afektif, belajar tentang cara belajar (learning how to learn) dan meningkatkan kreativitas serta semua
potensi peserta didik”. Jadi dapat disimpulkan bahwa teori humanistik merupakan
teori yang memanusiakan manusia. Konsep
kurikulum yang diterapkan di lingkungan sekolah Summerhill yaitu kurikulum
demokratis. Kurikulum demokrtis yaitu salah satu konsep kurikulum yang
memberikan kebebasan kepada anak didik, memberikan hak-hak yang sama kepada
setiap orang, serta mengutamakan musyawarah dalam membuat dan mengambil keputusan.
Konsep ini diambil oleh Neill dan istri pertamanya karena adanya satu ide pokok
yaitu membuat sekolah yang cocok dengan anak-anak bukan membuat anak-anak cocok
dengan sekolah. Neill mempunyai pendapat bahwa pada dasarnya tidak ada anak yang jahat. Yang ada
adalah para orangtua bermasalah,guru-guru bermasalah, dan sekolah-sekolah
bermasalah yang semuanya melahirkan anak-anak yang bermasalah (Summerhill
School, 1992).
Pembahasan
Summerhill
School (Democratic School) didirikan tahun 1921 oleh Alexander Sutherland Neill
atau sering dipanggil Neill. Summerhill School didirikan pertama kali di bukit Lyme Regis, Inggris dan pada tahun 1971
sampai saat ini sekolah tersebut pindah ke Lesiton, Inggris. Sekolah ini
terkenal seantero jagat karena adanya penerapan kebebasan dan tanggung jawab yang
diberlakukan kepada anak didiknya. Summerhill telah membuktikan kepada dunia
bahwa sekolah dapat menghilangkan ketakutan siswa terhadap guru dan, yang lebih
penting lagi, ketakutan terhadap hidup (Summerhill School, 1992: 32).
Latar belakang adanya penerapan kebebasan karena tugas
anak adalah melakoni hidup dengan kehidupannya sendiri. Bukan kehidupan yang,
menuntut orangtuanya yang cemas, mesti dia jalani, bukan pula kehidupan yang
sesuai dengan tujuan ahli pendidikan yang merasa tahu apa yang terbaik bagi
anak. Semua campur tangan dan petunjuk orang dewasa hanya akan menghasilkan
generasi robot (Summerhill School, 1992)
Jadi
dapat disimpulkan bahwa anak tidak boleh disuruh dalam hal belajar jika tak
ingin mendidik mereka menjadi orang-orang yang tak berkemauan sendiri.
Menyuruh-nyuruuh mereka berarti membuat mereka menjadi pemelihara status quo yang hanya baik bagi masyarakat dan sekedar
butuh pengasuh. Prinsip swakelola bagi para siswa dan staf, bebas untuk belajar
atau mangkir, bebas untuk bermain selama berhari-hari atau berminggu-minggu
atau bertahun-rahun bila perlu, bebas dari indoktrinasi agama atau moral atau
politik, bebas dari pembentukan karakter. Di sekolah-sekolah lain, terdapat
banyak sekali guru yang baik dan rajin, dan mereka dihargai atas jerih payah
mereka, tetapi, di Iingkungan yang mengekang disekolah-sekolah mereka yang
kerap kali mirip barak militer.
Pengelolaan sekolah serta kurikulum di Summerhill
tidak dibuat oleh negara, melainkan murni hasil pemikiran dari Neill karena
Summerhill merupakan sekolahan swakelola jadi bebas tanpa ada ikut campur
tangan dari negara. Kurikulum yang diterapkan di Summerhill adalah kurikulum
demokrtis. Kurikulum ini menerapkan adanya kebebasan dalam berpendapat, dan
kebebasan dalam segala hal. Hak antara satu orang dengan orang yang lainnya
sama, berlaku untuk semua warga di lingkungan Summerhill mulai dari Neill,
staff, maupun peserta didik. Sistem ini mengedepankan adanya hasil diskusi yang
disepakati oleh semua pihak termasuk peserta didik. Pembebasan di Summerhill
tidak serta merta semua tanpa ada aturan sama sekali. Peserta didik dibebaskan dalam
segala hal mulai dari merokok, mencoret-coret tembok, bahkan bebas memilih mengikuti
pelajaran atau tidak. Bebas tetapi mereka (peserta didik) harus mempunyai sikap
tanggung jawab. (Summerhill School, 2016) menyatakan sebagai berikut.
The
Summerhill School curriculum embraces everything that happens here: there is
not always a clear line between learning inside and outside the classroom.
Summerhill strongly feels that much important learning takes place outside the
classroom and is of a more casual nature than is allowed by most schools. Thus
we would consider the time that a group of teenagers spend sitting together and
discussing topics of their choice to be a valuable learning experience. Just
being part of the Summerhill democratic community, living with others in this
uniquely free environment and helping one another to do so is an invaluable
learning experience. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa
Summerhill School dalam proses pembelajaran mengutamakan adanya kebebasan,
ruang untuk belajar tidak selamanya berada di dalam kelas melainkan diluar
kelas.
Kelas-kelas dibuat berdasarkan kesamaan umur,
tetapi kadang-kadang berdasarkan kesamaan minat. Tidak terdapat metode
pengajaran yang baru, hal ini dikarenakan pihak Summerhill beranggapan bahwa
pengajaran itu tidak penting. Tidak signifikan apakah pembagian bertingkat
dalam matematika diajarkan dengan metode pengajaran yang khusus atau biasa
pasalnya pembagian bertingkat tidak penting kecuali mereka yang mau dan ingin
belajar mempelajarinya. Inti dari metode yang diterapkan di Summerhill adalah
sesuai kebutuhan anak didik dan tidak boleh dipaksakan. Sistem penilaian di
Summerhill mengutamakan adanya pembentukan moral tanggung jawab dan rasa peraya
diri yang tinggi jadi tidak ada sistem KKM yang harus dicari oleh anak didik.
Hak-hak anak didik selain mempunyai suara yang sama, mereka juga mempunyai hak
yang sama untuk memimpin rapat di Summerhill setiap seminggu sekali. Rapat yang
diadakan setiap seminggu sekali itu membahas tentang pembuatan peraturan yang
wajib disepakati oleh warga Summerhill. Tidak seperti rapat pada umumnya, rapat
di Summerhil dipimpin oleh anak didik.
Kekurangan
penerapan konsep kurikulum yang diusung oleh Neill yaitu tidak adanya kejelasan
pada pola mengajar guru, tidak semua anak didik mempunyai kemampuan umum yang
sama, semua tergantung oleh anak didik sehingga tidak ada visi, misi, standar
kelulusan yang jelas. Kelebihan dari kurikulum demokratis di Summerhill yaitu
minimal terbentuk sikap toleransi dan tanggung jawab pada peserta didik,
mempunyai skill sesuai bakat, bebas, bahagia. Hasil belajar dalam pandangan
adalah kemampuan peserta didik mengambil tanggung jawab dalam menentukan apa
yang dipelajari dan menjadi individu yang mampu mengarahkan diri sendiri (self-directing) dan mandiri (independent) (Rifai
et al., 2012: 122).
Penerapan konsep belajar humanistik dapat diterapkan
di Indonesia tetapi untuk konsep penerapan kurikulum demokratis yang berada di
Summerhill School belum tentu dapat diterapkan di seluruh Indonesia. Hal ini
terjadi, karena konsep kurikulum tersebut harus diterapkan kepada orang-orang
tertentu yang pada dasarnya sudah tertanam sejak dini sikap mandiri dan
tanggung jawab. Dengan harapan suatu saat konsep ini tidak menutup kemungkinan
dapat di terapkan di Indonesia. Kunci dari penerapan konsep kurikulum
demokratis ini adalah harus ada perubahan sikap untuk semua komponen pendidikan
serta harus disertai dukungan dari berbagai pihak. Untuk konsep belajar humanistik
pada kenyatan real sudah banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia yang
lebih mencolok adalah di sekolah-sekolah swasta mulai dari Taman Kanak-kanak
sampai dengan Perguruan Tinggi.
PENUTUP
Konsep kurikulum yang
diusung oleh Neill dapat dikatakan gila dan memang terbukti dapat memperbaiki
anak-anak yang mulanya bermasalah mejadi anak yang dapat bertanggung jawab.
Kurikulum yang bebas bukan berarti bebas tanpa aturan seperi di Summerhill
School. Bebas tetapi mereka punya aturan yang dibuatnya sendiri dan pantang
untuk melanggarnya. Bebas berekspresi, bebes mencari kebahagiaan tanpa
melupakan sikap tanggung jawab dan sikap mandiri. Kekurangan dalam konsep
belajar humanistik yaitu apabila peserta didik tidak mampu mengetahui potensi
yang ada di dirinya maka akan ketinggalan proses belajar, siswa yang malas
belajar akan merugi. Hasil belajar dalam pendekatan humanistik itu sukar
dispesifikasi dalam bentuk perilaku dan sukar diukur, sebab pendakatan
humanistik kurang menekankan pengetahuan dan keterampilan, sebaliknya lebih
menekankan pada hasil belajar yang bersifat personal. (Rifai et al., 2012:
123).
DAFTAR PUSTAKA
Neill, A., S. 1992. Summerhill School. Diterjemahkan oleh
Agung Prihantoro. 2007. Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA.
Rifa’i, A. dan C.T. Anni. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES
PRESS.
Muryani, S., E. Sulistari dan A.D.Ch.
Miraho. 2011. Identifikasi Kemampuan Mengembangkan
Kurikulum Dalam Implementasi KTSP Di Kalangan Guru SMK-BM Di Kota Salatiga. Satya
Widya, Nomor 2 Volume 29.
Anonim. 2016.
Summerhill School. http://www.summerhillschool.co.uk/about.php
diakses pada 17 Juni 2016 pukul 08.95.
No comments:
Post a Comment