Tuesday, January 3, 2017

SUMMERHILL SCHOOL PENDIDIKAN ALTERNATIF TINGKAT INTERNASIONAL YANG MENERAPKAN KONSEP KURIKULUM DEMOKRATIS SERTA KONSEP BELAJAR HUMANISTIK


Summerhill School Pendidikan Alternatif
TINGKAT INTERNASIONAL yANG MENERAPKAN
konsep KURIKULUM DemoKratiS
SERTA KONSEP BELAJAR HUMANISTIK
Nur Vita
Filsafat Pendidikan, Rombel 1, 1102415016, vitaemo1@gmail.com
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
 Program Studi Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Semarang

Abstrak
Summerhill School merupakan sekolah yang terkenal akan kebebasannya. Sekolah ini berada di Lyme Regis, Inggris setelah itu pada tahun 1921 pindah ke Lesiton, Inggris. Alexander Sutherland Neill adalah tokoh psikologi yang mendirikan Summerhill. Neill menerapkan konsep kurikulum dan konsep belajar yang berbeda dari sekolah-sekolah pada umumnya. Kurikulum yang diterapkan di Summerhill School diberi nama Democratic School. Sedangkan konsep belajar yang diterapkan adalah konsep belajar humanistik. Dimana antara konsep belajar dan konsep kurikulum sama-sama menanamkan kebebasan dan bahagia tetapi tetapi harus mempunyai sikap minimal mandiri dan bertanggung jawab. Jadi, sekolah yang bebas tetapi juga mempunyai aturan yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama yaitu dari anak didik, untuk anak didik dan oleh anak didik.
Kata Kunci : bebas, kurikulum, humanistik, anak didik.
AbstrACT
Summerhill School is a school known for its freedom. The school is located in Lyme Regis, England then in 1921 moved to Lesiton, England. Alexander Sutherland Neill is psychology who founded Summerhill. Neill apply the concept of curriculum and learning concepts that are different from schools in general. Curriculum applied in Summerhill School named Democratic School. While the concept of learning that is applied is the concept of humanistic study. Where the concept of learning and curriculum concept equally inculcate freedom and happy but but must have a minimum of attitude independent and responsible. So, schools are free, but also have laws that are made ​​by mutual agreement which of the students, for students and by students.
Keywords: free, curriculum, humanistic, students.
Pendahuluan
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum digunakan sebagai acuan penyelenggaraan pendidikan dan sekaligus indikator mutu pendidikan (Muryani et al., 2011). Summerhill School merupakan salah satu dari sekian sekolah yang di dalam sistem pengelolaan terdapat kurikulum. Namun kurikulum yang diberlakukan di Summerhill School  berbeda dengan sekolah pada umumnya, sekolah ini adalah sekolah modern unik. Keunikan sekolah ini yaitu adanya pemberian kebebasan secara penuh kepada anak didiknya. Alexander Sutherland Neill adalah salah satu tokoh bidang pendidikan dan psikologi, pendiri Summerhill School serta salah satu pencetus adanya teori belajar humanistik. Dalam buku Psikologi Pendidikan Tahun 2012 menyebutkam bahwa teori humanistik yang dicetuskan oleh A.S. Neill “dalam penerapan pendidikan fokus utamanya adalah hasil pendidikan yang bersifat afektif, belajar tentang cara belajar (learning how to learn) dan meningkatkan kreativitas serta semua potensi peserta didik”. Jadi dapat disimpulkan bahwa teori humanistik merupakan teori yang memanusiakan manusia. Konsep kurikulum yang diterapkan di lingkungan sekolah Summerhill yaitu kurikulum demokratis. Kurikulum demokrtis yaitu salah satu konsep kurikulum yang memberikan kebebasan kepada anak didik, memberikan hak-hak yang sama kepada setiap orang, serta mengutamakan musyawarah dalam membuat dan mengambil keputusan. Konsep ini diambil oleh Neill dan istri pertamanya karena adanya satu ide pokok yaitu membuat sekolah yang cocok dengan anak-anak bukan membuat anak-anak cocok dengan sekolah. Neill mempunyai pendapat bahwa pada dasarnya tidak ada anak yang jahat. Yang ada adalah para orangtua bermasalah,guru-guru bermasalah, dan sekolah-sekolah bermasalah yang semuanya melahirkan anak-anak yang bermasalah (Summerhill School, 1992).
Pembahasan
Summerhill School (Democratic School) didirikan tahun 1921 oleh Alexander Sutherland Neill atau sering dipanggil Neill. Summerhill School didirikan pertama kali di bukit Lyme Regis, Inggris dan pada tahun 1971 sampai saat ini sekolah tersebut pindah ke Lesiton, Inggris. Sekolah ini terkenal seantero jagat karena adanya penerapan kebebasan dan tanggung jawab yang diberlakukan kepada anak didiknya. Summerhill telah membuktikan kepada dunia bahwa sekolah dapat menghilangkan ketakutan siswa terhadap guru dan, yang lebih penting lagi, ketakutan terhadap hidup (Summerhill School, 1992: 32).
Latar belakang adanya penerapan kebebasan karena tugas anak adalah melakoni hidup dengan kehidupannya sendiri. Bukan kehidupan yang, menuntut orangtuanya yang cemas, mesti dia jalani, bukan pula kehidupan yang sesuai dengan tujuan ahli pendidikan yang merasa tahu apa yang terbaik bagi anak. Semua campur tangan dan petunjuk orang dewasa hanya akan menghasilkan generasi robot (Summerhill School, 1992)
Jadi dapat disimpulkan bahwa anak tidak boleh disuruh dalam hal belajar jika tak ingin mendidik mereka menjadi orang-orang yang tak berkemauan sendiri. Menyuruh-nyuruuh mereka berarti membuat mereka menjadi pemelihara status quo  yang hanya baik bagi masyarakat dan sekedar butuh pengasuh. Prinsip swakelola bagi para siswa dan staf, bebas untuk belajar atau mangkir, bebas untuk bermain selama berhari-hari atau berminggu-minggu atau bertahun-rahun bila perlu, bebas dari indoktrinasi agama atau moral atau politik, bebas dari pembentukan karakter. Di sekolah-sekolah lain, terdapat banyak sekali guru yang baik dan rajin, dan mereka dihargai atas jerih payah mereka, tetapi, di Iingkungan yang mengekang disekolah-sekolah mereka yang kerap kali mirip barak militer.
Pengelolaan sekolah serta kurikulum di Summerhill tidak dibuat oleh negara, melainkan murni hasil pemikiran dari Neill karena Summerhill merupakan sekolahan swakelola jadi bebas tanpa ada ikut campur tangan dari negara. Kurikulum yang diterapkan di Summerhill adalah kurikulum demokrtis. Kurikulum ini menerapkan adanya kebebasan dalam berpendapat, dan kebebasan dalam segala hal. Hak antara satu orang dengan orang yang lainnya sama, berlaku untuk semua warga di lingkungan Summerhill mulai dari Neill, staff, maupun peserta didik. Sistem ini mengedepankan adanya hasil diskusi yang disepakati oleh semua pihak termasuk peserta didik. Pembebasan di Summerhill tidak serta merta semua tanpa ada aturan sama sekali. Peserta didik dibebaskan dalam segala hal mulai dari merokok, mencoret-coret tembok, bahkan bebas memilih mengikuti pelajaran atau tidak. Bebas tetapi mereka (peserta didik) harus mempunyai sikap tanggung jawab. (Summerhill School, 2016) menyatakan sebagai berikut.
      The Summerhill School curriculum embraces everything that happens here: there is not always a clear line between learning inside and outside the classroom. Summerhill strongly feels that much important learning takes place outside the classroom and is of a more casual nature than is allowed by most schools. Thus we would consider the time that a group of teenagers spend sitting together and discussing topics of their choice to be a valuable learning experience. Just being part of the Summerhill democratic community, living with others in this uniquely free environment and helping one another to do so is an invaluable learning experience. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Summerhill School dalam proses pembelajaran mengutamakan adanya kebebasan, ruang untuk belajar tidak selamanya berada di dalam kelas melainkan diluar kelas.
   Kelas-kelas dibuat berdasarkan kesamaan umur, tetapi kadang-kadang berdasarkan kesamaan minat. Tidak terdapat metode pengajaran yang baru, hal ini dikarenakan pihak Summerhill beranggapan bahwa pengajaran itu tidak penting. Tidak signifikan apakah pembagian bertingkat dalam matematika diajarkan dengan metode pengajaran yang khusus atau biasa pasalnya pembagian bertingkat tidak penting kecuali mereka yang mau dan ingin belajar mempelajarinya. Inti dari metode yang diterapkan di Summerhill adalah sesuai kebutuhan anak didik dan tidak boleh dipaksakan. Sistem penilaian di Summerhill mengutamakan adanya pembentukan moral tanggung jawab dan rasa peraya diri yang tinggi jadi tidak ada sistem KKM yang harus dicari oleh anak didik. Hak-hak anak didik selain mempunyai suara yang sama, mereka juga mempunyai hak yang sama untuk memimpin rapat di Summerhill setiap seminggu sekali. Rapat yang diadakan setiap seminggu sekali itu membahas tentang pembuatan peraturan yang wajib disepakati oleh warga Summerhill. Tidak seperti rapat pada umumnya, rapat di Summerhil dipimpin oleh anak didik.
Kekurangan penerapan konsep kurikulum yang diusung oleh Neill yaitu tidak adanya kejelasan pada pola mengajar guru, tidak semua anak didik mempunyai kemampuan umum yang sama, semua tergantung oleh anak didik sehingga tidak ada visi, misi, standar kelulusan yang jelas. Kelebihan dari kurikulum demokratis di Summerhill yaitu minimal terbentuk sikap toleransi dan tanggung jawab pada peserta didik, mempunyai skill sesuai bakat, bebas, bahagia. Hasil belajar dalam pandangan adalah kemampuan peserta didik mengambil tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan menjadi individu yang mampu mengarahkan diri sendiri (self-directing) dan mandiri (independent)  (Rifai et al., 2012: 122).
Penerapan konsep belajar humanistik dapat diterapkan di Indonesia tetapi untuk konsep penerapan kurikulum demokratis yang berada di Summerhill School belum tentu dapat diterapkan di seluruh Indonesia. Hal ini terjadi, karena konsep kurikulum tersebut harus diterapkan kepada orang-orang tertentu yang pada dasarnya sudah tertanam sejak dini sikap mandiri dan tanggung jawab. Dengan harapan suatu saat konsep ini tidak menutup kemungkinan dapat di terapkan di Indonesia. Kunci dari penerapan konsep kurikulum demokratis ini adalah harus ada perubahan sikap untuk semua komponen pendidikan serta harus disertai dukungan dari berbagai pihak. Untuk konsep belajar humanistik pada kenyatan real sudah banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia yang lebih mencolok adalah di sekolah-sekolah swasta mulai dari Taman Kanak-kanak sampai dengan Perguruan Tinggi.
PENUTUP
            Konsep kurikulum yang diusung oleh Neill dapat dikatakan gila dan memang terbukti dapat memperbaiki anak-anak yang mulanya bermasalah mejadi anak yang dapat bertanggung jawab. Kurikulum yang bebas bukan berarti bebas tanpa aturan seperi di Summerhill School. Bebas tetapi mereka punya aturan yang dibuatnya sendiri dan pantang untuk melanggarnya. Bebas berekspresi, bebes mencari kebahagiaan tanpa melupakan sikap tanggung jawab dan sikap mandiri. Kekurangan dalam konsep belajar humanistik yaitu apabila peserta didik tidak mampu mengetahui potensi yang ada di dirinya maka akan ketinggalan proses belajar, siswa yang malas belajar akan merugi. Hasil belajar dalam pendekatan humanistik itu sukar dispesifikasi dalam bentuk perilaku dan sukar diukur, sebab pendakatan humanistik kurang menekankan pengetahuan dan keterampilan, sebaliknya lebih menekankan pada hasil belajar yang bersifat personal. (Rifai et al., 2012: 123).
DAFTAR PUSTAKA
Neill, A., S. 1992. Summerhill School. Diterjemahkan oleh Agung Prihantoro. 2007. Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA.
Rifa’i, A. dan C.T. Anni. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES PRESS.
Muryani, S., E. Sulistari dan A.D.Ch. Miraho. 2011. Identifikasi Kemampuan Mengembangkan Kurikulum Dalam Implementasi KTSP Di Kalangan Guru SMK-BM Di Kota Salatiga. Satya Widya, Nomor 2 Volume 29.
Anonim. 2016. Summerhill School. http://www.summerhillschool.co.uk/about.php diakses pada 17 Juni 2016 pukul 08.95.





No comments:

Post a Comment

MAKALAH KEGIATAN INTRUKSIONAL BERBASIS KOMPETENSI

  MAKALAH KEGIATAN INTRUKSIONAL BERBASIS KOMPETENSI Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Desain Instruksional Ol...