LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Disusun Oleh :
Nur Kholiq 1102415024
Siti Faizzatul Munawaroh 1102415025
Herlina RetnoWulandari 1102415026
Ahmad Muslichun 1102415058
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia mempunyai
kemampuan-kemampuan yang perlu dikembangkan melalui pengalaman yang terbentuk
dalam berinteraksi antar individu dengan lingkungan tempat tinggalnya yang
dapat mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan, perkembangan, serta proses dalam
menjalani kehidupannya melalui lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya.
Pendidikan merupakan usaha manusia
untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani
maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Maka dari itu, pendidikan perlu ditunjang dengan lingkungan pendidikan yang
baik. Karena lingkungan pendidikan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar
manusia dalam berinteraksi baik berupa benda mati, makhluk hidup, maupun
hal-hal yang terjadi dan sebagai tempat dalam menyalurkan kemampuan-kemampuan
untuk membentuk perkembangan setiap individu yang mempunyai pengaruh kuat
kepada individu.
Jadi dapat dikaitkan
bahwa dominasi lingkungan sangat berpengaruh pada pendidikan seseorang.
Adapun, lingkungan pendidikan dibagi menjadi 3 yaitu lingkungan pendidikan
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
B.
Rumusan
Masalah
Dari judul makalah tersebut, dapat
dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.
Apa
pengertian lingkungan pendidikan ?
2.
Apa saja fungsi lingkungan
pendidikan ?
3.
Apa saja jenis-jenis
lingkungan pendidikan ?
4.
Bagaimana
hubungan antara lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pendidikan ?
C.
Tujuan
Pembahasan
Tujuan dari pembahasan makalah ini
adalah untuk :
1.
Untuk
mengetahui dan memahami pengertian dari lingkungan pendidikan.
2.
Untuk
mengetahui dan memahami fungsi dari lingkungan pendidikan.
3.
Untuk
mengetahui dan memahami tentang jenis-jenis lingkungan pendidikan.
4.
Untuk
mengetahui dan memahami hubungan antara lingkungan keluarga, sekolah, dan
masyarakat dalam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Lingkungan Pendidikan
Kegiatan pendidikan selalu
berlangsung di dalam suatu lingkungan. Lingkungan secara umum diartikan sebagai
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk
manusia dan perilakunya, yang mempengari kelangsungan peri kehidupan dan
kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya. Lingkungan dengan pengertian
demikian dipilah menjadi lingkungan alam hayati, lingkungan alam nonhayati,
lingkungan buatan dan lingkungan sosial. Pendidikan adalah proses dan usaha
manusia untuk mencapai tingkat kedewasaan. Adapun menurut Hasbullah (2003)
lingkungan pendidikan mencakup :
Ø
Tempat
(lingkungan fisik), keadaan iklim, keadaan tanah, keadaan alam.
Ø
Kebudayaan
(lingkungan budaya) dengan warisan budaya tertentu seperti bahasa, seni,
ekonomi, ilmu pengetahuan, pandangan hidup, dan pandangan keagamaan.
Ø
Kelompok
hidup bersama (lingkungan sosial atau masyarakat) keluarga, kelompok bermain,
desa, perkumpulan dan lainnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa,
lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai berbagai faktor lingkungan yang
berpengaruh terhadap praktek pendidikan. Lingkungan pendidikan dapat pula
diartikan sebagai berbagai lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan, yang
merupakan bagian dari lingkungan sosial. Dalam bahasan kali ini pengertian kedualah
yang lebih dipergunakan.
B.
Fungsi
Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan sangat
mendukung bagi pertumbuhan anak serta membantu dalam pembentukan karakter anak.
Diantara fungsi lingkungan pendidikan adalah sebagai berikut :
1.
Dapat
menjamin kehidupan emosional peserta didik untuk tumbuh dan berkembang.
Kehidupan emosional ini sangat penting dalam pembentukan pribadi anak.
2.
Dapat membantu
peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya baik
lingkungan fisik, sosial, maupun budaya, terutama berbagai sumberdaya
pendidikan yang tersedia agar dapat dicapai tujuan pendidikan secara optimal.
3.
Dapat
membantu untuk memperluas dan mempercepat usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.
4.
Mengajarkan
tingkah laku umum dan untuk menyeleksi serta mempersiapkan peranan-peranan
tertentu dalam masyarakat.
5.
Di dalam
lingkungan pendidikan dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki
peserta didik baik dalam bentuk karir, akademik, kehidupan beragama, kehidupan
sosial budaya, maupun keterampilan lainnya.
C.
Jenis-jenis
Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan adalah tempat
seseorang memperoleh pendidikan secara langsung dan tidak langsung. Oleh karena
itu, lingkungan pendidikan ada yang bersifat sosial dan material. Lingkungan
pendidikan secara garis besarnya oleh Ki Hajar Dewantoro dibagi menjadi tiga
yang disebut denga Tri Pusat Pendidikan, yaitu
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
1.
Lingkungan Keluarga
Manusia ketika dilahirkan di dunia dalam keadaan
lemah. Tanpa pertolongan orang lain terutama orang tuanya, ia tidak bisa
berbuat banyak. Di balik keadaannya yang lemah itu ia memiliki potensi baik
yang bersifat jasmani maupun rohani.
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak, di
lingkungan keluarga pertama-tama anak mendapatkan pengaruh sadar. Karena itu
keluaraga merupakan kelompok primer yang terdiri dari sejumlah keluarga kecil
karena hubungan sedarah yang bersifat informal dan kodrati serta menjadi
lembaga pendidikan tertua. Keluarga bisa berbentuk keluarga inti (nucleus family : ayah, ibu, dan anak) ataupun
keluarga yang diperluas (di samping inti, ada orang lain seperti kakek, nenek,
ipar dan lain sebagainya).
Tugas lingkungan pendidikan keluarga diatur dalam UUD
Sistem Pendidikan Nasional No. 2 Tahun 1989 menyatakan secara jelas dalam Pasal
10 Ayat 4, bahwa keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah
yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai-nilai moral dan
keterampilan kepada anak. Pendidikan
keluarga disebut sebagai pendidikan utama karena di dalam lingkungan ini
segenap potensi yang dimiliki manusia terbentuk dan sebagian dikembangkan.
Pendidikan keluarga dapat dibedakan menjadi 2 yaitu
pendidikan prenatal (pendidikan dalam kandungan) dan pendidikan postnatal
(pendidikan setelah lahir). Pendidikan prenatal (pendidikan dalam
kandungan) diyakini merupakan pendidikan untuk pembentukan potensi yang akan
dikembangkan dalam proses pendidikan selanjutnya. Wujud praktek pendidikan prenatal
cenderung dipengaruhi oleh praktek-praktek budaya seperti do`a untuk si janin,
mitoni, neloni, sirikan, dan lain-lain. Sedangkan, pendidikan postnatal
(pendidikan setelah lahir) yaitu pendidikan yang diberikan kepada si anak
setelah lahir dengan hal-hal yang akan bermanfaat dan berguna dalam hidupnya.
Wujud praktek pendidikan postnatal yaitu cenderung pada pendidikan karakter dan
perilaku dari individu tersebut.
Anak dalam menjalani pendidikan di lingkungan keluarga
biasanya menghadapi hambatan-hambatan. Hambatan-hambatan tersebut antara lain
sebagai berikut.
a.
Anak kurang
mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua.
b.
Figur orang tua
yang tidak mampu memberikan keteladanan pada anak.
c.
Sosial
ekonomi keluarga yang kurang atau sebaliknya yang tidak bisa menunjang belajar.
d.
Kasih sayang
orangtua yang berlebihan sehingga cenderung untuk memanjakan anak.
e.
Orang tua
yang tidak bisa memberikan rasa aman kepada anak, tuntutan orangtua yang
terlalu tinggi.
f.
Orang tua
yang tidak bisa membangkitkan inisiatif dan kretifitas kepada anak.
Keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang pertama
sangat penting dalam membentuk pola kepribadian anak. Karena di dalam keluarga,
anak pertama kali berkenalan dengan nilai dan norma. Keluarga didasarkan pada
cinta kasih yang sangat natural, sehingga suasana pendidikan yang berlangsung
di dalamnya berdasarkan kepada suasana yang tanpa memikirkan hak.
Pendidikan keluarga memberikan pengetahuan dan
keterampilan dasar, agama, dan nilai moral, norma sosial dan pandangan hidup
yang diperlukan peserta didik untuk dapat berperan dalam keluarga dan dalam
masyarakat.
Dasar-dasar tanggung jawab keluarga terhadap
pendidikan anaknya, meliputi hal-hal berikut:
a.
Dorongan/motivasi
cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dengan anak. Cinta kasih ini
mendorong sikap dan tindakan rela menerima tanggung jawab, dan mengabdikan
dirinya untuk sang anak.
b.
Dorongan/motifasi
kewajiban moral, sebagai konsekuensi kedudukan orangtua terhadap keturunannya.
Tanggung jawab moral ini meliputi nilai-nilai religius spiritual yang dijiwai
ketuhanan Yang Maha Esa dan agama masing-masing di samping didorong oleh
kesadaran memelihara martabat dan kehormatan keluarga.
c.
Tanggung jawab
sosial sebagai bagian dari keluarga, yang pada gilirannya juga menjadi bagian
dari masyarakat, bangsa, dan negaranya, bahkan kemanusiaan.
Dasar-dasar pendidikan yang diberikan kepada anak dari
orangtua meliputi tujuh hal, yaitu dasar pendidikan budi pekerti, dasar
pendidikan sosial, dasar pendidikan intelek, dasar pembentukan kebiasaan
pembinaan kepribadian yang baik dan wajar, dasar pendidikan kekeluargaan, dasar
pendidikan nasionalisme, dan dasar pendidikan agama.
Lingkungan keluarga berpengaruh kepada anak dari sisi
perlakuan, keluarga terhadap anak, kedudukan anak dalam keluarga, keadaan
ekonomi keluarga, keadaan pendidikan
keluarga, dan pekerjaan orangtua.
Dari lingkungan keluarga yang harmonis mampu
memancarkan keteladanan kepada anak-anaknya, karena dikatakan pendidikan
pertama pada bayi atau anak itu berkenalan dengan lingkungan serta mendapat
pembinaan pada keluarga.
2.
Lingkungan
Sekolah
Sebagai akibat dari perkembangan
ilmu dan teknologi dan terbatasnya orangtua dalam kedua hal tersebut, orangtua
sangat penting dalam menyiapkan anak-anak untuk kehidupan mansyarakat. Sekolah
memegang peranan penting dalam pendidikan karena pengaruhnya besar sekali pada
jiwa anak. Karena itu di samping keluarga sebagai pusat untuk pendidikan,
sekolah pun mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan
kepribadian anak.
Pendidikan di sekolah mencakup
pendidikan umum dalam mempersiapkan peserta didik menguasai kemampuan dasar
untuk melanjutkan pendidikan atau memasuki lapangan kerja. Pendidikan sekolah
biasanya disebut sebagai pendidikan formal karena ia adalah pendidikan yang
mempunyai dasar, tujuan, isi, metode, alat-alatnya yang disusun secara
eksplisit, sistematis, dan distandarisasikan. Penjabaran fungsi sekolah sebagai
pusat pendidikan formal, terlihat pada tujuan instruksional, yaitu tujuan
kelembagaan pada masing-masing jenis da tingkatan sekolah.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan
formal menerima fungsi pendidikan berdasarkan asas-asas tanggung jawab berikut
ini:
a.
Tanggung
jawab formal kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan yang ditetapkan
menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku yaitu undang-undang pendidikan.
b.
Tanggungjawab
keilmuan berdasarkan bentuk, isi, tujuan dan tingkat pendidikan yang
dipercayakan kepadanya oleh masyarakat dan negara.
c.
Tanggungjawab
fungsional ialah tanggungjawab profesional pengelola dan pelaksana pendidikan.
Sekolah sebagai pendidikan formal
dirancang sedemikian rupa agar lebih efektif dan efisien, yaitu bersifat
klasikal dan berjenjang. Sistem klasikal memungkinkan sejumlah anak belajar
bersama dan dipimpin oleh seorang atau beberapa orang guru sebagai fasilitator.
Selain itu ada beberapa hambatan
belajar di lingkungan sekolah, yaitu:
a.
Sulit bergaul
karena memiliki perasaan malu dan minder akan kekurangannya.
b.
Ada perasaan
takut diejek teman.
c.
Merasa tidak
sempurna dibandingkan dengan teman-teman lain.
Sekolah dianggap sebagai suatu
lingkungan yang paling bertanggungjawab terhadap pendidikan murid-muridnya,
lebih-lebih bila dikaitkan dengan pengabdian sumber daya manusia yang
berkualitas untuk dapat bersaing secara global. Maka pembangunan sekolah
dianggap sebagai investasi yang prosfektif demi menyongsong kemajuan bangsa.
3.
Lingkungan
Masyarakat
Pendidikan dalam lingkungan
masyarakat tampaknya sudah lebih maju dibandingankan dengan pendidikan dalam
lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Karena masyarakat adalah salah satu
lingkungan pendidikan yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi
seseorang. Pandangan hidup, cita-cita bangsa, sosial budaya, dan perkembangan
ilmu pengetahuan akan mewarnai keadaan masyarakat tersebut.
Masyarakat turut serta memikul
tanggung jawab pendidikan. Pendidika kemasyarakatan merupakan wahana yang amat
besar artinya bagi perkembangan individu dan masyarakat sebagai gerakan yang
memperluas dan mempercepat usaha mencerdaskan bangsa.
Menurut Soerjono Soekanto (1988),
dalam setiap masyarakat baik yang sederhana maupun yang kompleks, terbelakang,
atau maju, pasti terdapat pranat-pranata sosial. Jika dianalisis paling tidak
ada lima pranata sosial yang terdapat dalam sistem masyarakat, yaitu:
a.
Pranata pendidikan
Pranata
pendidikan secara umum mempunyai tugas dalam upaya sosialisasi sehingga setiap
warga masyarakat mempunyai kepribadian yang mendekati harapan masyarakat yang
bersangkutan.
b.
Pranata ekonomi
Pranata ekonomi
bertugas mengatur upaya pemenuhan kemakmuran hidup sehingga masing-masing
anggota memperoleh kelayakan secara ekonomis.
c.
Pranata politik
Pranata politik
bertugas menciptakan integritas dan stabilitas masyarakat.
d.
Pranata teknologi
Pranata teknologi berupaya
menciptakan teknik untuk mempermudah kehidupan manusia.
e.
Pranata moral atau etika
Pranata moral
bertugas mengurusi nilai dan penyikapan atau tindakan dalam pergaulan dalam
masyarakat.
Masing-masing
pranata memiliki tugas yang hampir sama untuk setiap masyarakat dan mempunyai hubungan
interdepensi yang kuat. Sekolah sebagai pendidikan lahir dari, oleh, dan untuk
masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu sekolah harus mengikuti haluan
dari masyarakat yang bersangkutan, baik tercermin dalam falsafah dan tujuan
pendidikan, kurikulum ataupun pengelolaannya. Upaya-upaya untuk mengakrabkan
masyarakat dengan sekolah antara lain dengan komite sekolah, bantuan finansial
terhadap sarana dan kelengkapan sekolah, sistem magang, KKN, PKL, dan
lain-lain.
Dalam menjalani pendidikan di
lingkungan masyarakat biasanya akan mengalami kesulitan-kesulitan, antara lain
:
a.
Lingkungan
fisik dan nonfisik yang kurang menguntungkan. Lingkungan yang demikian akan
banyak menghambat anak dalam belajar.
b.
Tugas yang
diberikan lembaga terlalu berat/banyak, sehingga anak tidak dapat menyelesaikan
tugas tersebut dengan baik. Terlalu banyaknya kegiatan yang diikuti dalam waktu
yang terbatas, bisa menjadi penyebab kegiatan tersebut tidak dilaksanakan
dengan baik dan akan mengalami kesulitan, yang akhirnya hasilnya akan kurang.
c.
Apabila
nilai dikembangkan oleh anak berbeda/bertentangan dengan nilai/adat yang ada di
masyarakat maka akan timbul konflik nilai. Kalau terjadi hal demikian biasanya
anak akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan dalam diri terhadap lingkungan
tersebut. Keadaan yang demikian biasanya akan berpengaruh terhadap upaya
belajar anak.
Corak dan ragam pendidikan yang
dialami seseorang dalam masyarakat meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan
pembentukan pengetahuan sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan
keagamaan.
Pendidikan dalam pergaulan
masyarakat terutama banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan seperti masjid,
surau atau langgar, musholla, madrasah, pondok pesantren, pengajian,
kursus, dan badan-badan pembinaan rohani.
D. Hubungan Keluarga, Sekolah, dan
Masyarakat dalam Lingkungan Pendidikan
Keluarga sebagai satuan organisasi terkecil di masyarakat mendapat peranan
sangat penting karena membentuk kepribadian dan watak anggota keluarganya.
Sedangkan masyarakat terdiri dari keluarga-keluarga. Dari satuan terkecil itu
terbentuklah gagasan untuk terus mewariskan standar watak dan kepribadian yang
baik yang diakui oleh semua golongan masayarakat salah satu institusi yang
mewarisakan kepribadian dan watak kepada masayarakat adalah sekolah.
Sekolah tidak akan terus berdiri jika tidak di dukung oleh masyarakat, maka
dari itu kedua sistem sosial ini saling mendukung dan melengkapi. Jika di
sekolah dapat terbentuk perubahan sosial yang baik berdasarkan nilai atau
kaidah yang berlaku, maka masyarakat pun akan mengalami perubahan sosial.
Sebagai salah satu wujud sekolah sebagai bagian dari masyarakat maka
terbentuklah sekolah masyarakat (community school). Sekolah ini bersifat
life centered. Yang menjadi pokok pelajaran adalah kebutuhan manusia,
masalah-masalah dan proses-proses sosial dengan tujuan untuk memperbaiki
kehidupan dalam masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai laboratorium dimana
anak belajar, menyelidiki dan turut serta dalam usaha-usaha masyarakat yang
mengandung unsur pendidikan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Lingkungan pendidikan adalah tempat
seseorang memperoleh pendidikan secara langsung atau tidak langsung. Lingkungan
pendidikan terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan
masyarakat.
Lingkungan keluarga adalah tempat
anak dilahirkan. Disinilah pertama kali ia mengenal nilai dan norma. Pendidikan
di lingkungan keluarga berfungsi untuk memberikan dasar dalam menumbuhkembangkan
anak sebagai makhluk individu, sosial, susila,dan religius.
Lingkungan sekolah adalah lingkungan
kedua bagi anak. Di sekolah ia mendapatkan pendidikan yang intensif. Di sinilah
potensi anak akan ditumbuhkembangkan. Sekolah merupakan tumpuan dan harapan
orangtua dan masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Di lingkungan masyarakat anak akan
mendapat pendidikan. Masyarakat merupakan lingkungan pendidikan ketiga yang
ikut bertanggungjawab dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Semua lingkungan pendidikan sangat
berperan besar dalam mencapai tujuan pendidikan. Ketiga lingkungan tersebut
sangat berkaitan, di dalam lingkungan keluarga anak terbentuk kepribadiaannya.
Dan kepribadian yang baik yang diakui oleh semua
golongan masayarakat salah satu institusi yang mewarisakan kepribadian dan
watak kepada masayarakat adalah sekolah.
DAFTAR
PUSTAKA
Munib, Achmad, dkk. 2010. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: Universitas Negeri Semarang
Press.
Ikhsan, Fuad. 2005. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
TIM Dosen FIP-IKIP Malang. 1988. Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
No comments:
Post a Comment