PELAKSANAAN PENGEMBANGAN MODEL KURIKULUM
GRASS ROOTS (AKAR RUMPUT)
MATA KULIAH IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN
KURIKULUM
MAKALAH INI DISUSUN GUNA UNTUK MENYELESAIKAN
NILAI “K”
Disusun oleh:
Moh. Agus Riawan
1102415022
JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Model atau rancangan bahkan model dalam kurikulum adalah komponen
yang sangat menentukan keberhasilan sebuah proses pendidikan. Mendesain
kurikulum bukanlah pekerjaan yang ringan. Ia membutuhkan kajian yang
komprehensif dalam rangka mendapatkan hasil yang dapat mengakomodir tuntutan
dan perubahan zaman. Mendesain kurikulum berarti menyusun model kurikulum
sesuai dengan misi dan visi sekolah. Tugas dan peran seorang desainer
kurikulum, sama seperti arsitek. Sebelum menentukan bahan dan cara
mengkonstruksi bangunan terlebih dahulu seorang arsitek harus merancang model
bangunan yang akan dibangun.
Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum.
Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas
kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang
optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem
pengolahan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang
digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan
yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi.
Mencermati hal diatas maka penulis tidak dalam upaya untuk
menyajikan kurikulum dari aspek model-modelnya secara keseluruhan. Namun akan
lebih mencermati sekaligus mengkaji kurikulum sesuai dengan judul yang
ditugaskan kepada penulis, yaitu Pelaksanaan Pengembangan Kurikulum Model Grass
Roots (Akar Rumput).
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat diambil adalah:
a. Bagaimana
sebenarnya kurikulum model akar rumput?
b. Bagaimana peran
serta kurikulum model akar rumput?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui
sejarah dari model akar rumput
b. Mengetahui
prinsip-prinsip dasar model akar rumput
c. Mengetahui ciri
– ciri kurikulum model akar rumput
d. Memahami
kelebihan dan kekurangan model akar rumput
e. Dapat
memodifikasi model akar rumput
1.4 Manfaat
|
a. Bagi penulis,
makalah ini dapat dijadikan sebagai sarana dalam proses perbaikan nilak “K”
pada mata kuliah Implementasi Pengembangan Kurikulum mengenai Pelakasanaan
Perkembangan Kurikulum Model Grass Roots (Akar Rumput) , memberikan
pembelajaran dalam menulis makalah yang baik, menambah pengetahuan tentang
materi yang ditulis dan untuk memenuhi tugas yang telah diberikan.
b.
Bagi pembaca, makalah ini dapat dijadikan
bahan pembelajaran terhadap mata kuliah terkait, dan menambah pengetahuan
mengenai Pelaksanaan Perkembangan Kurikulum Model Grass Roots (Akar Rumput).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Grass
Roots
Dilihat dari cakupan pengembangannya ada dua pendekatan yang dapat
diterapkan. Pertama, pendekatan top down atau pendekatan administrative, yaitu
pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah, dan kedua adalah
pendekatan grass root, atau pengembangan kurikulum yang diawali oleh inisiatif
dari bawah lalu disebarluaskan pada tingkat atau skala yang lebih luas, dengan
istilah singkat sering dinamakan pengembangan kurikulum dari bawah ke atas.
Kalau pada pendekatan administratif inisiatif pengembangan
kurikulum berasal dari para pemegang kebijakan kemudian turun ke stafnya atau
dari atas ke bawah, maka dalam model Grass Roots, inisiatif pengembangan
kurikulum dimulai dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implementator,
kemudian menyebar pada lingkungan yang lebih luas, makanya pendekatan ini
dinamakan juga pengembangan kurikulum dari bawah ke atas. Oleh karena sifatnya
yang demikian, maka pendekatan ini lebih banyak digunakan dalam penyempurnaan
kurikulum (curriculum improvement), walaupun dalam skala yang terbatas mungkin
juga digunakan dalam pengembangan kurikulum baru (curriculum construction).
Dalam kondisi yang bagaimana kiri-kira guru dapat berinisiatif
memperbarui dan atau menyempurnakan kurikulum dengan pendekatan semacam ini ?
Ya, minimal ada syarat sebagai kondisi yang memungkinkan pendekatan Grass Roots
dapat berlangsung. Pertama, manakala kurikulum itu benar-benar bersifat lentur
sehingga memberikan kesempatan kepada setiap guru secara lebih terbuka untuk
memperbarui atau menyempurnakan kurikulum yang sedang diberlakukan. Kurikulum
yang bersifat kaku, yang hanya mengandung petunjuk dan persyaratan teknis
sangat sulit dilakukan pengembangannya dengan pendekatan ini.
Kedua, pendekatan Grass Roots hanya mungkin terjadi manakala guru
memiliki sikap professional yang tinggi disertai kemampuan yang memadai. Sikap
professional itu biasanya ditandai dengan keinginan untuk mencoba dan mencoba
sesuatu yang baru dalam upaya untuk meningkatkan kinerjanya. Seorang
professional itu akan selalu berusaha menambah pengetahuan dan wawasannya
dengan menggali sumber-sumber pengetahuan. Ia juga akan selalu mencoba dan
mencoba untuk mencapai kesempurnaan. Ia tidak akan puas dengan hasil yang
minimal. Ia akan bisa tenang manakala hasil kinerjanya sesuai dengan target
maksimalnya. Dalam kondisi yang demikianlah Grass Roots akan terjadi.
Kemudian bagaimana dengan kenyataan di Indonesia ? banyakkah
guru-guru yang mempunyai kemauan dan kemampuan seperti ini ? Baiklah sekarang
jangan terlalu hiraukan keadaan itu secara berlebihan, yang terpenting adalah
kita harus mulai memahami bagaimana pelaksanaan pendekatan Grass Roots ini
dilakukan. Ada beberapa langkah penyempurnaan kurikulum yang dapat kita lakukan
manakala menggunakan pendekatan Grass Roots ini.
Pertama, menyadari adanya masalah. Pendekatan Grass Roots biasanya
diawali dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Misalnya dirasakan
ketidakcocokan penggunaan strategi pembelajaran, atau kegiatan evaluasi seperti
yang diharapkan, atau masalah kurangnya motivasi belajar siswa sehingga kita
merasa terganggu, dan lain sebaginya. Pemahaman dan kesadaran guru akan adanya
suatu masalah merupakan kunci dalam Grass Roots. Tanpa adanya kesadaran masalah
tidak mungkin Grass Roots dapat berlangsung. Kedua, mengadakan refleksi. Kalau
kita merasakan adanya masalah, maka selanjutnya kita berusaha mencari penyebab
munculnya masalah tersebut. Refleksi dilakukan dengan mengkaji literatur yang
relevan misalnya dengan membaca buku, jurnal hasil penelitian yang relevan
dengan latar belakangnya. Dengan pemahaman tersebut, akan memudahkan bagi guru
dalam mendesain lingkungan yang dapat mengaktifkan siswa memperoleh pengalaman
belajar. Ada beberapa prinsip dalam menentukan pengalaman belajar siswa.
Pertama, pengalaman siswa harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Setiap
tujuan akan menentukan pengalaman pembelajaran. Kedua, setiap penglaman belajar
harus memuaskan siswa. Ketiga, Setiap rancangan pengalaman siswa belajar
sebaiknya melibatkan siswa. Keempat, mungkin dalam satu penglaman belajar dapat
mencapai tujuan yang berbeda. Terdapat beberapa bentuk pengalaman belajar yang
dapat dikembangkan, misalkan pengalaman belajar untuk mengembangkan kemampuan
berpikir siswa, pengalaman belajar untuk membantu siswa dalam mengumpulkan
sejumlah informasi, pengalaman belajar untuk membantu mengembangkan sikap sosial,
dan pengalaman belajar untuk membantu mengembangkan minat.
Untuk lebih merinci, penulis akan mengulas kembali secara rinci,
bahwa inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi
dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Diberi nama Grass Roots karena inisiatif
dan gagasan pengembangan kurikulum datang dari seorang guru sekelompok guru
atau keseluruhan guru di suatu sekolah. Hal itu didasarkan atas pertimbangan
bahwa guru adalah : Perencana, pelaksana, penyempurna dari pengajaran di
kelasnya. Dari beberapa kajian di atas, maka dapat ditemukan ciri-ciri dari Grass
Roots yaitu :
1. Guru memiliki
kemampuan yang professional.
2. Keterlibatan
langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan dan penentuan evaluasi.
3. Muncul konsensus
tujuan, prinsip – prinsip maupun rencana – rencana diantara para guru.
4. Bersifat
desentralisasi dan demokratis.
Model akar rumput dikembangkan oleh Smith, Stanley & Shores
pada tahun 1957. Model akar rumput atau disebut dengan the Grass Roots model
berbeda dengan rekayasa model administrasi. Misalnya model ini diawali oleh
guru, pembina disekolah dengan mengabaikan metode pembuatan keputusan kelompok
secara demokratis dan dimulai dari bagian-bagian yang lemah kemudian diarahkan
untuk memperbaiki kurikulum tertentu yang lebih spesifik atau kelas-kelas
tertentu. Dalam model ini didasarkan pada pertimbangan bahwa guru adalah
perencana, pelaksana, dan juga penyempurna pengajaran dikelasnya. Jadi bedanya
pada bila model Administrasi bersifat sentralisasi pada model akar rumput ini
bersifat desentralisasi. Hal ini memungkinkan terjadinya kompetisi di dalam
meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan menghasilkan
manusia-manusia yang mandiri dan kreatif.
Orientasi yang demokratis dari rekayasa ini bertanggung jawab
membangkitkan 2 asumsi yang sangat penting yaitu :
Bahwa kurikulum hanya dapat diterapkan secara berhasil apabila guru
dilibatkan secara langsung dengan proses pembuatan dan pengembangannya.
Bukan hanya para profesional, tetapi murid, orang tua, anggota
masyarakat lain harus dimasukkan dalam proses pengembangan kurikulum.
2.2 Prinsip – Prinsip Model Akar Rumput
Guru
sebagai kunci dalam rekayasa kurikulum yang efektif, digambarkan pada 4 prinsip
yaitu, (a) kurikulum akan baik apabila kemampuan profesional guru baik. (b) Kompetensi
guru akan membaik apabila guru terlibat secara pribadi dalam masalah
perbaikan/revisi kurikulum. (c) Jika guru ikut serta dalam membentuk
tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam memilih, mendefinisikan, memecahkan
masalah yang akan dihadapi, mempertimbangkan dan menilai hasil maka keterlibatannya
paling terjamin. (d) Setiap orang yang bertemu dalam kelompok dan bertatap
muka, mereka akan dapat memahami satu sama lain dengan lebih baik dan mencapai
suatu konsensus berdasarkan prinsip-prinsip dasar, tujuan dan rencana.
(Stanley, Smith and Shores 1957:429) Prinsip ini bersifat operasional, karena
guru didorong untuk bekerja secara kooperatif dalam merencanakan kurikulum
baru. Dorongan terjadi bila pihak administrator menyediakan jabatan, waktu
luang, material dan rangsangan lain yang kondusif terhadap perencanaan
kurikulum.
2.3 Kelebihan Model Akar Rumput
Dari penjelasan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kelebihan
dari Model Akar Rumput ini adalah pengikutsertaan semua komponen sekolah dari
kepala sekolah, guru, siswa bahkan orang tua siswa. Meskipun dalam hal ini
tidak mengetahui apakah itu kurikulum akan tetapi demi tanggung jawab dan
kepentingan dari siswa maka hal-pengembangan kurikulum yang dilakukan harus
melibatkan orang tua siswa.
2.4 Kelemahan Model Akar Rumput
Kelemahan model ini adalah menerapkan metode partisipasi yang
demokratis dalam proses yang khusus, bersifat teknis yang kompleks. Ini tidak
berarti bahwa keputusan masyarakat umumnya tidak perlu diperhatikan atau para
guru tidak boleh diberi peran dalam rekayasa kurikulum. Ini hanya untuk
menyatakan bahwa peran dasar pemikiran satu suara tidak atau belum tentu
menghasilkan sesuatu yang terbaik dalam suatu situasi, otoritas tertentu amat
diperlukan. Namun perlu diingat bahwa model ini lebih memberikan konstribusi
awal dalam memperkuat landasan pembuatan keputusan kurikulum dan dalam hal itu
model ini bertanggung jawab terhadap keinginan-keinginan masyarakat.
2.5 Modifikasi
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama.
Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari
bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Diberi nama grass root karena inisiatif
dan gagasan pengembangan kurikulum datang dari seorang guru sekelompok guru
atau keseluruhan guru di suatu sekolah. Hal itu didasarkan atas pertimbangan
bahwa guru adalah : a. perencana, b. pelaksana, c. penyempurna dari pengajaran
di kelasnya Dari beberapa kajian di atas, maka dapat ditemukan ciri-ciri dari grass
root model yaitu : Guru memiliki kemampuan yang professional. Keterlibatan
langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan dan penentuan evaluasi. Muncul
konsensus tujuan, prinsip – prinsip maupun rencana – rencana diantara para
guru. Bersifat desentralisasi dan demokratis.
2.6 Pengembang
Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut
berpartisipasi yaitu administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum,
ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru dan orang tua murid serta tokoh-tokoh
masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus menerus turut terlibat
dalam pengembangan kurikulum adalah administrator, guru dan orang tua.
1.
Peranan
Para Administrator Pendidikan :
Para administrator pendidikan terdiri atas : a.) Direktur bidang
pendidikan, b.) Kepala pusat pengembangan kurikulum, c.) Kepala kantor wilayah,
d.) Kepala kantor kabupaten,/kecamatan e.) Kepala Sekolah.
2.
Peran
Para Administrator di Tingkat Pusat.
Peran para administrator di tingkat pusat ( direktur dan kepala
pusat ) yaitu : a.) Menyusun dasar-dasar hokum, 2.) Menyusun kerangka dasar
serta program inti kurikulum, c.) Atas dasar dari peranan para administrator
pusat, maka para administrator daerah ( kepala kantor wilayah, kabupaten,
kecamatan, kepala sekolah ) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang
sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya yang
secara terus-menerus terlibat dalam dalam mengembangkan dan mengimplementasi
kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru. Walaupun dapat
mengembangkan kurikulum sendiri, tetapi dalam pelaksanaannya sering harus
didorong dan dibantu oleh para administrator. Administrator lokal harus bekerja
sama dengan kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai
dengan kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan sistem pendidikan kepada
masyarakat, serta mendorong pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di kelas.
Peranan kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum di
sekolahnya. Kepala sekolah juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan
kondisi untuk pengembangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figur kunci di
sekolah, kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhi suasana sekolah dan
pengembangan kurikulum.
3.
Peranan
Para Ahli
Para ahli mengacu pada kebijaksanaan yang ditetapakan pemerintah,
maka peranan para ahli yakni, a.) Memberikan alternatif konsep pendidikan dan
model kurikulum yang dipandang paling sesuai dengan keadaan dan tuntuatan di
atas, b.) Berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum baik dalam tingkat pusat
maupun pada tingkat daerah, lokal bahkan sekolah, c.) Memilih materi bidang
ilmu yang mutakhir dan sesuai dengan pengembangan tuntutan masyarakat, d.)
Menyusun materi ajaran dalam sekuens yang sesuai dengan struktur keilmuan,
tetapi sangat memudahkan para siswa untuk mempelajarinya.
4.
Peranan
Guru.
Guru memegang peranan yang sangat penting baik di dalam perencanaan
maupun pelaksanaan kurikulum. Beberapa peran guru sebagai berikut : a.) Sebagai
perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya, b.) Sebagai
penerjemah kurikulum yang datang dari atas, c.) Mengolah, meramu kembali
kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya, d.) Melakukan evaluasi dan
penyempurnaan terhadap kurikulum, e.) Menilai perilaku dan prestasi belajar
siswa si kelas, f.) Menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih
luas, g.) Sebagai seorang komunikator, pendorong kegiatan belajar, pengembang
alat-alat belajar, pencoba, penyusunan organisasi, manager sistem pengajaran,
h.) Pembimbing baik di sekolah maupun di masyarakat dalam hubungannya dengan
pelaksanan pendidikan seumur hidup, i.) Sebagai pelajar dalam masyarakatnya, j.)
Menciptakan kegiatan belajar mengajar, situasi belajar yang aktif yang
menggairahkan yang penuh kesungguhan dan mampu mendorong kreativitas anak.
5.
Peranan
Orang Tua Murid
Peranan orang tua murid dalam pengembng kurikulum yaitu : Melalui
pengamatan dalam kegiatan belajar di rumah, laporan sekolah, partisipasi dalam
kegiatan sekolah dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar yang sewajarnya,
minat yang penuh, usaha yang sungguh-sungguh. Kegiatan – kegiatan tersebut akan
memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan sebagaimana telah dibahas pada bagian
pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak model yang dapat
digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan
kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta
kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan
sistem pendidikan dan sistem pengolahan pendidikan yang dianut serta model
konsep pendidikan mana yang akan digunakan dalam suatu sekolah itu sendiri.
Model pengembangan Grass Roots ini merupakan inisiatif dan upaya
pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu
guru-guru atau sekolah. Diberi nama Grass Roots karena inisiatif dan gagasan
pengembangan kurikulum datang dari seorang guru sekelompok guru atau
keseluruhan guru di suatu sekolah. Pendekatan Grass Roots hanya mungkin terjadi
manakala guru memiliki sikap professional yang tinggi disertai kemampuan yang
memadai. Sikap professional itu biasanya ditandai dengan keinginan untuk
mencoba dan mencoba sesuatu yang baru dalam upaya untuk meningkatkan
kinerjanya. Seorang professional itu akan selalu berusaha menambah pengetahuan
dan wawasannya dengan menggali sumber-sumber pengetahuan. Ia juga akan selalu
mencoba dan mencoba untuk mencapai kesempurnaan. Ia tidak akan puas dengan
hasil yang minimal. Ia akan bisa tenang manakala hasil kinerjanya sesuai dengan
target maksimalnya.
Dalam kondisi yang demikianlah Grass Roots akan terjadi.
Pengembangan kurikulum yang bersifat Grass Roots, mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model Grass Rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.
Pengembangan kurikulum yang bersifat Grass Roots, mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model Grass Rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Prayogo, Agung. 2013. Model Pengembangan Kurikulum Grass
http://agunkscape.blogspot.com/2012/03/model-pengembangan-kurikulum-grass.html
(diakses 26-07-2016)
Subandijah. 1996. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: PT.
Raja
Grafindo.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2009. Pengembangan Kurikulum, Teori dan
Praktek.
Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya

No comments:
Post a Comment