Pemanfaatan
Teknologi Komputer Dalam Pelaksanaan Ujian Nasional
Moh
Agus Riawan
Kurikulum
dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
Abstract
The development of information
technology has touched almost all sectors . This requires improvement of
performance in terms of both effectiveness and efficiency . One of the sectors
which are the important things to note is the performance improvement of the education
sector . With the development of information technology today demand a testing
system that is effective and efficient and able to do the testing quickly,
accurately and facilitate the testing and assessment itself . It is hoped all
the obstacles encountered when running a manual way can be reduced or even
eliminated.
Keywords: CBT; Effective;Online
Abstrak
Perkembangan teknologi informasi telah menyentuh hampir semua
sektor. Hal inimenuntut peningkatkan kinerja baik dari segi efektifitas dan efesiensi.
Salah satu sektoryang menjadi hal penting untuk diperhatikan peningkatan
kinerja ialah sektor pendidikan.Dengan Perkembangan teknologi informasi saat
ini menuntut suatu sistem pengujianyang efektif dan efisien serta mampu
melakukan pengujian secara cepat, tepat danmemudahkan dalam melakukanpengujian
serta penilaian itu sendiri. Diharapkan semuakendala yang ditemui pada saat
menjalankan cara manual dapat diperkecil atau bahkandihilangkan.
Kata Kunci : CBT; efektif; online
Pendahuluan
Ujian nasional
menimbulkan banyak permasalahan dalam pelaksanaannya. Bahkan tiada hari tanpa
masalah, dan sepertinya pantas kalau ujian nasional dikatakan kacau balau.
Betapa tidak karut marut ini mulai terjadi sejak proses pengandaan naskah soal,
pendistribusian naskah soal, sampai pada pengerjaan oleh siswa peserta ujian di
kelas. Bahkan akan sampai pada pemeriksaan atau proses pemindaian hasil ujian
pada LJUN.Proses penggandaan bermasalah dengan terlambatnya penyelesaian dari
pihak percetakan untuk 11 propinsi yakni pada wilayah bagian tengah Indonesia.
Untuk masalah
ini terjadi saling tuding dari pihak percetakan, Kemdikbud, BSNP, dan pengawas
perguruan tinggi. Namun pak Menteri Dikbud (Prof. M. Nuh) menyatakan orang yang
paling bertanggung jawab terhadap masalah UN, meski enggan mundur karena hal
itu.
Mengatasi
problem pendistribusian soal ke pelosok daerah, terpaksa presiden turun tangan
menginstruksikan TNI dan Polri untuk mengerahkan segala kemampuan untuk
membantu distribusi soal. Tak tanggung-tanggung TNI melibatkan pesawat hercules
dan foker untuk mengangkut soal ke 11 propinsi tujuan, bahkan sampai disertai
dengan pengawalan Pak Wamendikbud. Sedangkan polri terlibat langsung dalam
pengawalan naskah soal sampai ke kabupaten. Namun karena persebaran sekolah
yang beragam, maka sekolah yang terletak jauh di pelosok atau terpencil menjadi
tambah terlambat. Bahkan beberapa sekolah di Luwu Sulawesi Selatan (Bastem) dan
di Kolaka Utara harus mengerjakan soal ujian pada malam hari dengan penerangan
lampu minyak.
Ketika
pengerjaan soal berlangsung ternyata masih banyak pula masalah yang di alami
oleh siswa dan panitia penyelenggara sekolah. Beberapa sekolah tidak
mendapatkan jatah soal UN, Soal tidak cukup untuk semua peserta, dan kertas
LJUN yang tipis sehingga mudah sobek. Ketika naskah soal tidak tersedia
dan/atau soal tidak cukup, panitia terpaksa berinisiatif untuk mengadakan
naskah soal dan LJUN dengan memfoto kopi sendiri untuk sejumlah siswa di
sekolahnya.Problem naskah soal dan LJUN yang foto copy-an ini lah yang akan
menimbulkan masalah lanjutan pada proses pemeriksaan hasil ujian. LJUN foto
copy-an hanya berupa LJUN sementara, dan petugas teknis harus memindahkan data
dan jawaban siswa pada LJUN sementara ke LJUN komputer yang semestinya. LJUN
komputer/LJK yang digunakan harus disesuaikan dengan barcode soal yang
digunakan siswa dalam UN. Oleh karena itu, prosesnya akan butuh waktu lebih
lama atau yang lebih mudah dilakukan dengan cara manual.
Sebagaimana
telah ditetapkan oleh BSNP bahwa untuk menjaga keotentikan hasil ujian
nasional, maka naskah soal dan LJUN memiliki barcode yang sama. LJUN-pun
menyatu dengan naskah soal. Ketika siswa hendak mengerjakan ujian, terlebih
dahulu harus memisahkan LJUN dari naskah soal agar tidak kusut atau rusak.
Namun sebuah kasus kecerbohan pengawas terjadi pada sebuah sekolah
penyelenggara ujian nasional. Kasusnya terjadi di SMAN 1 Towuti Kabupaten Luwu
timur Sulawesi selatan, di mana guru pengawas ruang ujian memisahkan naskah
soal dan LJUN sebelum dibagikan ke siswa. LJUN lalu dibagi secara acak dalam
satu ruangan. Problemnya ketika membagi soal, guru pengawas kebingungan berdua
dalam ruangan ujian. Mengetahui kasus ini, ketua panitia penyelenggara yang
juga berperan sebagai ketua subra dan kepala sekolah (Adam, S.Pd.) mengalami
kepanikan. Beruntung kelebihan soal dari ruangan ujian lain di sekolah itu,
cukup untuk peserta ujian di ruang bermasalah tadi.
Pro kontra
dalam Ujian Nasional terjadi disebabkan rasa kecewa masyarakat yang menilai
pemerintah tidak konsisten, karena dengan Ujian Nasional tetap dijadikan
sebagai faktor penentu kelulusan siswa ketimbang sarana pemetaan standar mutu
pendididkan di Indonesia.Dari tahun ke tahun standar kelulusan terus meningkat
belum diimbangi dengan pemerataan fasilitas pendidikan di beberapa daerah
secara tidak langsung membuat siswa mengalami kesulitan untuk memenuhi target
yang ada. Sehingga tidak sedikit siswa terpaksa harus mengulang, disebabkan
nilainya kurang memenuhi standar.
Permasalahan
utama yang dihadapi pelaksanaan
UN CBT adalah kurangnya sarana dan prasarana sekolah - sekolah,
sertasertifikasi keahlian dari guru-guru sekolah tersebut. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap
masyarakat tentang pelaksanaan ujian nasional secara efektif, efisien, baik,
dan terarah.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan artikel dan jurnal yang saya
baca, terdapat berbagai macam permasalahan yang memang tidak mudah untuk
dihadapi. Namun dari pihak pelaksana UN CBT ini, dapat diminimalisir
madalah-masalah tersebut. Salah satu masalah tersebut adalah (a) Percetakan salah perhitungan. Sebanyak 11 daerah terpaksa tidak bisa mengikuti ujian secara
serentak. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M
Nuh, penyebabnya karena satu dari enam perusahaan percetakan yang mencetak soal-soal
ujian belum menyelesaikan pekerjaan. Perusahaan itu PT Ghalia Indonesia
Printing. Direktur
PT Ghalia, Hamzah Lukman mengakui masalah itu. Menurut dia, perusahaan
kewalahan karena dan salah perhitungan. Soal-soal sudah selesai dicetak, tetapi
perusahaan terlambat memasukkan soal ke kotak yang akan didistribusikan. (b) Ditribusi tidak merata. Ujian nasional seharusnya dilakukan serentak di seluruh Indonesia.
Namun tahun ini hal itu tidak bisa dilakukan karena masalah teknis pada
perusahaan percetakan. Karena satu dari enam perusahaan percetakan yang
mencetak soal UN belum memasukkan soal ke kotak, maka distribusi soal terlambat
dikirim ke daerah-daerah. Daerah-daerah
itu di antaranya Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara,
Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. (c) Jadwal ujian mundur. Rentetan persoalan itu berujung pada penundaan pelaksanaan UN.
Setidaknya siswa sekolah di 11 daerah wilayah Indonesia Timur, seharusnya
melaksanakan ujian serentak pada hari ini, Senin, 15 April, terpaksa ditunda
hingga hari Selasa, 16 April 2013. Masalah ini tentu membingungkan siswa.
Apalagi tidak semua siswa tahu ada penundaan jadwal ujian. Misalnya siswa di Palu,
Sulawesi Tengah. Mereka tetap hadir ke sekolah tepat waktu meski UN tingkat
SLTA diundur.kebanyakan siswa tidak mengetahui bahwa UN diundur karena tidak
ada pemberitahuan sebelumnya. (d) Kekurangan soal. Kasus UN lebih menyedihkan lagi. Bagaimana bisa, jumlah soal mata
pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kurang.
Apalagi, kekurangan itu baru diketahui pada saat pembagian soal di kelas.
"Ada kekurangan lima sampul soal, diperkirakan satu sampul berisi 20 soal,
berarti ada sekitar 100 soal yang kurang," kata Kepala Bidang Sekolah
Menengah Atas pada Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru, Abdul Jamal,
kepada Antara di Pekanbaru, Senin. Menurut Jamal, ternyata isi soal tidak
sesuai dengan jumlah yang tertera dalam sampul. Untuk mengantisipasi kendala
kekurangan soal yang cukup banyak itu, panitia terpaksa melakukan penggandaan.
"Kami terpaksa foto kopi soal karena tidak ada solusi lain, dan itu
diperbolehkan sesuai dengan petunjuk dari perguruan tinggi yang mengawasi UN,"
katanya. (e) Lembar Jawaban Ujian Nasional Kurang. Selain Soal Ujian Nasional kurang ternyata di Kabupaten Murung Raya
Provinsi Kalimantan tengah mengalami kekurangan LJUN saat pelaksanaan Ujian
Nasional yang berlangsung. Alangkah sedihnya nasib para
siswa-siswi mereka yang kekurangan LJUN itu.Terpaksa untuk menyikapi masalah
tersebut pihak pengawas foto copi LJUN karena tidak ada solusi lain.
Selain dari permasalahan-permasalahan
tersebut, di dalam artikel yang saya baca juga membahas sebab-sebab sekolah
tidak menerapkan system ujian CBT ini. Sebab-sebab itu antara lain, (a) Memiliki komputer minimal satu pertiga dari jumlah peserta ujian. Komputer merupakan syarat pertama
dan utama yang harus dipenuhi oleh sekolah-sekolah yang menerapkan system ujian
CBT. Namun juga harus diimbangi dengan spesifikasi komputer yang baik dan layak
untuk digunakan ujian. Karena pelaksanaan ujian CBT ini dibagi menjadi tiga
sesi, maka jumlah komputer yang harus dimiliki sekolah tersebut tidak kurang
dari satu pertiga dari jumlah peserta ujian. (b) Didukung jaringan internet yang kuat. Jaringan internet merupakan sebagai penghubung dari komputer cient
ke computer server. Fungsinya sebagai sarana untuk menerima data yang telah
dikirim. Semakin baik suatu jaringan, maka semakin baik pula proses penerimaan
datanya. (c) Server yang
bagus. Server adalah computer sentral yang
menangani kumpulan data (database) dan memberikan layanan terhadap komputer
klient. Cara kerja server sebagai media penyimpanan data dari komputer klient,
pencetakan dokumen, server dapa dikatakan sebagai pusat data dan memberikan layanan, berupa koneksi
ataupun layanan yang lain ke komputer klien. Yang artinya dengan adanya server,
pelaksanaan UN CBT menjadi lebih menghemat penggunaan listrik dan penggunaan
data.
Gagasan
Ujian Nasional
(UN) tahun 2013 saat ini sedang berlangsung dengan berbagai permasalahan yang
dihadapi. Secara logis seharusnya hal ini tidak perlu terjadi karena UN adalah
kegiatan yang setiap dilaksanakan secara rutin setiap tahun.
Setiap tahun yang menjadi permasalahan utama adalah masalah kebocoran
soal, beredarnya kunci jawaban, dan masalah kelulusan. Tetapi tahun ini masalah
terbesar yang muncul adalah keterlambatan ujian akibat cetak dan distribusi
soal ke lokasi ujian, masalah kualitas lembar jawaban. Pemerintah diminta
menerapkan kebijakan 100 persen lulus kepada seluruh peserta ujian nasional
(UN) 2013 akibat karut-marutnya pelaksanaan UN Presiden harus meminta Menteri Pendidikan
mundur karena menteri tidak mau mengundurkan diri. Kalau masih belum ada
kesadaran, Presiden harus melakukan berbagai cara agar menteri itu mundur, baik
dengan cara terhormat atau tidak. Sebagai orang yang terlibat langsung
dalam dunia pendidikan mencoba belajar dan mengambil hikmah dari masalah yangg
terjadi saatini. Perencanaan yang baik, akan mendapatkan hasil yang
baik jika rencana tersebut dilaksanakan sebagaimana mestinya. Namun dibalik
rencana ada kondisi tertentu diluar kuasa dan pengendalian seseorang. Apapun yg
terjadi harus diterima sebagai kenyataan yang baik
maupun yang buruk. Kenyataan harus dihadapi, kita boleh bersedih karena masalah
dihadapi tapi jangan terlalu terlena dengan masalah tersebut apalagi sibuk mencari
kambing hitam atau menyalahkan orang lain. Wacana system online merupakan salah satusolusi untuk mengatasi masalah pelaksanaan
ujian nasional.
Kesimpulan
Dari berbagai uraian dan penjelasan di atas, saya dapat
menyimpulkan bahwa, Ujian Nasional harus lebih dikaji untuk ke masa yang akan datang. Persiapan
Ujian Nasional harus benar-benar dipersiapkan secara sistematis dan terkontrol
agar pendistribusian soal, kekurangan Soal, dan LJUN yang kurang tidak terjadi
lagi.Distribusi soal yg dilakukan secara fisik dari pusat ke daerah merupakan
salah satu kendala besar yang dihadapi dan perlu biaya transportasi dan
pengawalan yang luar biasa besar. Hal ini sesungguhnya dapat dipercepat metode
distribusinya dengan cara memanfaatkan teknologi informasi baik pendistribusian
secara fisik maupun distribusi secara digital atau pihak pemerintah mempercayakan
provinsi untuk mencetak soal-soal tersebut dengan memberikan dokumen asli
kepada provinsi, provinsi yang mengelola pendistribusian soal dan LJUN tersebut
sehingga masing-masing provinsi lebih meningkatkan efesiensinya untuk
kelancaran ujian nasional disekolah-sekolah diprovinsi mereka masing-masing.
Ucapan Terimakasih
Sebagai tanda kebahagiaan atas terselasainya tugas jurnal ini,
penulis mengucapkan terimakasih kepada, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan jurnal ini. Orang tua, yang selalu mendukung dan memberikan
semangat. Teman-teman, yang bersedia membantu penulis dikala penulis merasa kesulitan
dalam menyelesaikan jurna lini.
Daftar Pustaka :
http://m.tempo.co/read/kolom/2015/04/14/2055/Ujian-Nasional-Berbasis
-Komputer
http://komputermesh.blogspot.co.id/2014/12/pengertian-server-dan-cara-ker (komputermesh, 2014)ja-server.html?m=1
No comments:
Post a Comment